Saturday, 26 March 2016

Can I be the only one? Just me!

Ketika pertemuan tanpa intuisi lain selain menjalin pertemanan. Ketika pertemuan yang tanpa disengaja menumbuhkan rasa nyaman di hati, seketika itu pula muncul sebuah pertanyaan. Bisakah aku menjadi satu-satunya?



Melalui tulisan ini, biarkan orang lain mengenal sosok lelaki yang sangat hebat merebut dan merengkuh hatiku. Yang mampu membuat hidupku lebih berwarna dari sebelumnya.

Dia seorang lelaki yang ku kenal melalui seorang sahabatku. Dia yang tidak sengaja bertemu diwaktu makan siang dan dengan pandainya masuk perlahan mengisi kekosongan di hatiku. Disaat aku yakin bahwa aku tak memerlukan sosok laki-laki lain selain sahabat lelakiku.

Hatiku perlahan terisi oleh Dia, dengan segala leluconnya. Dia hadir tanpa syarat apapun. Saat itu aku telah sadar aku menyayanginya tanpa syarat.

Tak pernah kupungkiri aku pernah merasakan bagaimana menyayangi seseorang, tapi tidak seperti aku menyayanginya. Kita berbeda, itu yang aku rasakan. Dari hubunganku dengannya, aku belajar menyayangi seseorang tahap demi tahap. Menemani dan menciptakan momen perjalan hidupnya maupun hidupku.

Bersamanya aku tahu rasanya dimanjakan dan dikasihi. Dengannya pula aku belajar mengendalikan rasa rindu yang menggebu, belajar bersabar memahami dunianya yang sibuk.

Ketika dalam euforia hubunganku dengannya, aku melupakan bahwa banyak wanita selain diriku menginginkannya. Ya, aku melupakan dia yang begitu tampannya, begitu mawasnya dalam bergaul, begitu hebatnya dimata orang lain.

Aku mulai takut, cemburu dengan wanita lain yang dengan leluasa tanpa malu berkomunikasi dengannya sedangkan aku dengan gengsiku malah menahan setiap inci gerakan dan komunikasi yang selama itu terjalin. Aku dengan tidak percaya dirinya, aku dengan segala ketakutan untuk disakiti, dan aku yang mulai hilang arah mengikuti rasa bosan yang hadir memutuskan untuk meninggalkannya. Tanpa mau mempercayainya dan tanpa mau mendengarkannya, hubungan kamipun berakhir saat itu.

Dia adalah seorang lelaki yang tangguh. Entah sejak kapan, setelah putus hubungan kami menjadi lebih baik. Kami mulai menjalin pertemanan kembali. Mudah? tentu saja tidak. Aku yang menyayanginya dengan caraku hingga saat ini, masih saja betah bersembunyi dibalik tameng pertemanan.

Dia yang sampai sekarang masih saja memperhatikanku dan masih saja memenuhiku dengan kehangatannya. Mempedulikanku dengan caranya sendiri yang selalu saja dengan mudah menyingkirkan lelaki lain yang baru memulai untuk membuka hatiku. Ya, hatiku masih untuknya. Aku masih menyayanginya sama seperti dulu.

Aku masih tetap sama. Menyayanginya dengan penuh ketakutan.

Hey, kamu lelaki hebatku. Bisakah kau meyakinkanku bahwa aku hanyalah satu-satunya diantara banyaknya wanita yang menginginkanmu? Karena aku terlalu bodoh dan pengecut untuk tetap bertahan disampingmu dengan semua hiruk pikuk wanita disekelilingmu.

0 komentar:

Post a Comment

 

Lady Nang World's Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template