Friday, 21 March 2014

TEORI BLOOM : PENYEBAB PENYAKIT KESEHATAN MASYARAKAT - PERILAKU



TEORI PENYEBAB PENYAKIT
“PERILAKU”

Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Perilaku manusia adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Perilaku manusia merupakan salah satu faktor yang banyak memegang peranan
dalam menentukan derajat kesehatan suatu masyarakat atau menjadi salah satu determinan sebuah penyakit dalam ranah epidemiologi. Determinan adalah istilah inklusif yang merujuk kepada semua faktor, baik fisik, biologi, perilaku, sosial, maupun kultural yang mempengaruhi kesehatan dan terjadinya penyakit (Last, 2001).
Menurut Bloom perilaku memiliki kontribusi besar dalam menentukan status kesehatan individu maupun masyarakat. Salah satu keistimewaan yang menonjol adalah perilakunya. Meskipun semua makhluk hidup mempunyai perilaku. Namun perilaku berbeda dengan perilaku makhluk hidup yang lain.
Bloom, seorang psikolog pendidikan, membedakan adanya tiga bidang perilaku, yakni kognitif, afektif, dan psikomotor. Kemudian dalam perkembangannya, domain perilaku yang diklasifikasikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga tingkat:
1.      Pengetahuan (knowledge). Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya.
2.      Sikap (attitude). Sikap merupakan respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.
3.      Tindakan atau praktik (practice). Tindakan ini merujuk pada perilaku yang diekspresikan dalam bentuk tindakan, yang merupakan bentuk nyata dari pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki.

Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
1.   Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance) adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
2.   Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.
3.   Perilaku kesehatan lingkungan adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya.

Pembentukan perilaku
Perilaku manusia terbentuk karena adanya kebutuhan. Menurut Abraham Harold Maslow, manusia memiliki 5 kebutuhan dasar, yaitu :
1)    Kebutuhan fisiologis, biologis yang merupakan kebutuhan pokok utama, yaitu O2, H2O, cairan elektrolit, makanan dan seks. Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi akan terjadi ketidakseimbangan fisiologis. Misalnya, kekurangan O2 yang menimbulkan sesak napas dan kekurangan H2O dan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi.
2)      Kebutuhan rasa aman, misalnya :
a)      Rasa aman terhindar dari pencurian, penodongan, perampokan dan kejahatan lain.
b)      Rasa aman terhindar dari konflik, tawuran, kerusuhan, peperangan, dll.
c)      Rasa aman terhindar dari sakit dan penyakit. Rasa aman memperoleh perlindungan hukum
3)     Kebutuhan mencintai dan dicintai, misalnya :
a)      Mendambakan kasih sayang/ cinta kasih orang lain baik dari orangtua, saudara, teman, kekasih,dll.
b)      Ingin dicintai/ mencintai orang lain.
c)      Ingin diterima oleh kelompok tempat ia berada.
4)      Kebutuhan harga diri
a)      Ingin dihargai dan menghargai orang lain.
b)      Adanya respek atau perhatian dari orang lain.
c)      Toleransi atau saling menghargai dalam hidup berdampingan.
5)      Kebutuhan aktualisasi diri, misalnya :
a)      Ingin dipuja atau disanjung oleh orang lain.
b)      Ingin sukses atau berhasil dalam mencapai cita-cita.
c)      Ingin menonjol dan lebih dari orang lain, baik dalam karier, usaha,kekayaan, dll.
Tingkatkan dan jenis kebutuhan tersebut satu dan lainnya tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan atau rangkaian walaupun pada hakekatnya kebutuhan fisiologis merupakan faktor yang dominan untuk kelangsungan hidup manusia dan dalam memenuhi kebutuhan, tidak dapat dipisah-pisahkan antara satu dan yang lain
Beberapa penyakit yang timbul akibat perilaku adalah sebagai berikut :
1.      Anemia defisiensi Fe
Perilaku yang dapat menyebabkan penyakit anemia defisiensi zat besi adalah :
·         Ketidakpatuhan dalam mengkonsumsi tablet Fe pada ibu hamil. Kebutuhan zat besi ibu hamil meningkat dari 1,25 mg/hari pada saat tidak hamil menjadi 6 mg/hari selama kehamilan yang disebabkan karena besi digunakan dalam pembentukan janin dan cadangan dalam plasenta serta untuk sintesis Hb ibu hamil. Ini dijelaskan dalam jurnal Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Anemia Defisiensi Besi terhadap Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Zat Besi oleh Mardhatillah Fuady dan Datten Bangun Vol. 1 No. 1 bulan Februari 2013 bahwa ketidakpatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet Fe adalah karena kurangnya pengetahuan mereka.
·         Perilaku makan makanan yang kurang bervariasi dengan kandungan zat besi yang kurang. Dalam jurnal Hubungan Pola Konsumsi dengan Status Hemoglobin Pada Ibu Hamil Di Kabupaten Gowa Tahun 2013 oleh Bulkis, dkk. Menyatakan bahwa sumber zat besi yang dikonsumsi bukan berasal dari besi heme sehingga kurang bisa mendukung keberadaan zat besi dalam tubuh. Ibu hamil anemia maupun tidak anemia pada penelitian ini mengkonsumsi pangan sumber besi heme dalam frekuensi yang lebih rendah jika dibandingkan dengan frekuensi konsumsi pangan sumber besi non heme. Selain itu kemungkinan besar konsumsi besi non heme tidak diimbangi dengan konsumsi besi heme. Sebagaimana diketahui bahwa besi heme lebih mudah diserap oleh tubuh daripada besi non heme.  Ketidakcukupan jumlah Fe dalam makanan terjadi karena pola konsumsi makan masyarakat Indonesia masih didominasi sayuran sebagai sumber zat besi yang sulit diserap, sedangkan daging dan bahan pangan hewani sebagai sumber zat besi yang baik (heme iron) jarang dikonsumsi terutama oleh masyarakat pedesaan (Almatsier, 2010). Selain asupan zat besi, perlu juga meningkatkan asupan vit. C yang dapat meningkatkan absorpsi Fe dan mengurangi konsumsi zat penghambat absoprsi Fe dalam tubuh (seperti tanin pada teh dan polifenol pada kopi).
·         Perilaku hidup kurang bersih dan sehat (seperti bermain di tanah tanpa menggunakan alas kaki, tidak mencuci tangan sebelum makan, dll) sehingga dapat terinfeksi cacing tambang yang menghisap darah dan asupan zat besi di dalam tubuh. Dalam jurnal Hubungan Kecacingan Dengan Anemia Pada Murid Sekolah Dasar di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara oleh Novita Hasyim dan kawan-kawan pada agustus 2013 lalu, menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antar kecacingan dengan Anemia pada anak Sekolah Dasar di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara dan juga anak yang ditemukan kecacingan berisiko 59 kali untuk mengalami Anemia di bandingkan anak yang tidak mengalami kecacingan. Berdasarkan hasil penelitian pada murid sekolah dasar yang positif terinfeksi cacing tetapi tidak anemia sebanyak 1 orang. Ini berarti siswa yang terinfeksi cacing akan mengalami anemia, ini bisa terjadi karena jenis cacing yang terdeteksi adalah karena cacing tambang (Necator americanus), dikarenakan penyebaran cacing ini banyak di daerah pedesaan pertambangan dan khususnya  perkebunan, karena golongan pekerja sering kali berhubungan langsung dengan tanah, begitu juga pada anak-anak Sekolah Dasar  di karenakan aktifitas mereka yang lebih banyak menyentuh dengan tanah. Infeksi cacingan sangat luas terjadi, terutama pada mereka dengan populasi miskin di Negara sedang berkembang. Infeksi cacingan pada anak sering terjadi dengan berbagai efek yang berbeda sesuai dengan umur. Infeksi ini menyebabkan anemia, malnutrisi, nafsu makan kurang dan dapat menyebabkan keterbelakangan fisik dan kognisi anak. (Kung’u dkk , 2009)


2.      Obesitas
·         Kebiasan kurang bergerak, kurang beraktivitas seperti olahraga teratur, serta ketergantungan pada kemudahan teknologi. Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas. Obesitas banyak dijumpai pada orang yang kurang melakukan aktivitas fisik dan kebanyakan duduk. Dimasa industri sekarang ini, dengan meningkatnya mekanisasi dan kemudahan transportasi, orang cenderung kurang gerak atau sedikit menggunakan tenaga untuk aktivitas sehari-hari. Seseorang yang sering berolahraga atau beraktivitas maka lemak dalam tubuhnya akan di bakar sedangkan seseorang yang tidak melakukan aktivitas fisik akan semakin banyak timbunan lemak dalam tubuhnya sehingga kemungkinan untuk menjadi obesitas jauh lebih besar.
·         Kebiasaan konsumsi fast food, minuman manis maupun makanan kemasan, serta makan yang dengan kandungan lemak tinggi seperti gorengan, memiliki kecenderungan berat berlebih karena makanan tersebut merupakan makanan yang tingi lemak dan kalori tetapi memiliki nilai gizi rendah.
·         Kurangnya konsumsi buah dan sayur. Konsumsi serat secara linier akan mengurangi asupan lemak dan garam yang selanjutnya akan menurunkan tekanan darah dan mencegah peningkatan berat badan.
·         Kebiasaan merokok sang Ibu dan overweight pada masa kehamilan. Anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang merokok dan kelebihan berat badan selama kehamilan adalah kelompok yang paling berisiko mengidap obesitas. Dalam penelitian terbaru, para ahli dari University of Montreal mengklaim dapat memprediksi kelompok anak-anak yang mungkin mengalami obesitas dengan meneliti perilaku ibu mereka (saat masa kehamilan). Studi terbaru ini diterbitkan dalam Archives of Pediatric and Adolecent Medicine. Seorang anak dengan seorang ibu yang kelebihan berat badan atau merokok selama kehamilan secara signifikan lebih mungkin untuk mengalami obesitas. Kedua faktor ini menurut peneliti menjadi jauh lebih penting sebagai pemicu obesitas ketimbang kriteria lain seperti berat lahir anak.  Dr. Zdenka Pausova, seorang ilmuwan di Hospital for Sick Children di Toronto mengatakan bahwa berdasarkan penelitian ibu hamil yang merokok dapat menyebabkan perubahan struktural dalam bagian dari otak yang memproses penghargaan dan dapat meningkatkan kesukaan akan makanan berlemak. Selain itu, paparan nikotin pada masa prenatal meningkatkan kematian sel-sel beta yang memproduksi insulin di pancreas, dan ekspresi gen yang lebih besar membentuk sel-sel lemak.

3.      Kanker Serviks
·         Seks bebas. Wanita dengan aktivitas seksual yang tinggi dan sering berganti-ganti pasangan. Berganti-ganti pasangan akan memungkinkan tertularnya penyakit kelamin, salah satunya Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini akan mengubah sel-sel di permukaan mukosa hingga membelah menjadi lebih banyak sehingga tidak terkendali sehingga menjadi kanker.
·         Penggunaan antiseptik. Kebiasaan pencucian vagina dengan menggunakan obat-obatan antiseptik akan mengakibatkan iritasi di serviks yang merangsang terjadinya kanker.
·         Kebiasaan merokok. Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.  Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping merupakan kokarsinogen infeksi virus. Nikotin, mempermudah semua selaput lendir sel-sel tubuh bereaksi atau menjadi terangsang, baik pada mukosa tenggorokan, paru-paru maupun serviks. Namun tidak diketahui dengan pasti berapa banyak jumlah nikotin yang dikonsumsi yang bisa menyebabkan kanker leher rahim.

1 komentar:

  1. TIPS MENGHENTIKAN KECANDUAN SMARTPHONE
    http://indonugraha.blogspot.co.id/2016/02/tips-menghentikan-kecanduan-smartphone.html

    ReplyDelete

 

Lady Nang World's Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template